Selasa, 08 November 2011

Bendungan ASI dan Infeksi Payudara


PENDAHULUAN
Menyusui merupakan suatu proses alamiah. Berjuta juta ibu diseluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI, seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sehingga pengetahuan lama yang mendasar seperti menyusui justru kadang terlupakan, menyusui adalah suatu pengetahuan yang selama berjuta-juta tahun mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pada masa nifas, masalah yang sering timbul antara lain kelainan putting, payudara bengkak, terjadinya pembendungan ASI. Terjadinya masalah tersebut karena beberapa faktor antara lain kurangnya perawatan payudara pada ibu menyusui. Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil dan menyusui.
Berdasarkan laporan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI, 2007) diusia lebih dari 25 tahun sepertiga wanita di Dunia (38%) didapati tidak menyusui bayinya karena terjadi pembengkakan payudara, dan di Indonesia angka cakupan ASI eksklusif mencapai 32,3% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada anak mereka.Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008-2009 menunjukkan bahwa 55% ibu menyusui mengalami mastitis dan putting susu lecet, kemungkinan hal tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan payudara selama kehamilan.
Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya adalah melakukan perawatan payudara pada kehamilan dan melakukan Helth Education melalui penyuluhan- penyuluhan pada ibu post partum hari ke 3-6 yang disertai demontrasi cara perawatan payudara setelah melahirkan dengan benar, serta penyuluhan dan peragaan tentang perawatan payudara pada kunjungan masa nifas, dimana penyuluhan tepat pada waktu ibu mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan yang merupakan informasi keterpaduan menalar ilmiah dan sistematis. Upaya ini dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam perawatan payudara secara baik dan benar sebagai upaya preventif terhadap masalah menyusui sehingga proses menyusui dapat berjalan dengan lancar dan merupakan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi.




BENDUNGAN ASI
Pembendungan ASI menurut Pritchar (1999) adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus lakteferi atau oleh kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu (Buku Obstetri Williams). Pada versi lain bendungan air susu diartikan sebagai pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan (Sarwono, 2005:700).
Kepenuhan fisiologis menurut Rustam (1998) adalah sejak hari ketiga sampai hari keenam setelah persalinan, ketika ASI secara normal dihasilkan, payudara menjadi sangat penuh. Hal ini bersifat fisiologis dan dengan penghisapan yang efektif dan pengeluaran ASI oleh bayi, rasa penuh tersebut pulih dengan cepat. Namun dapat berkembang menjadi bendungan. Pada bendungan, payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran vena limpatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat dan tekanan pada saluran ASI dengan alveoli meingkat. Payudara menjadi bengkak, merah dan mengkilap. Jadi dapat diambil kesimpulan perbedaan kepenuhan fisiologis maupun bendungan ASI pada payudara adalah:
1.      Pada kepenuhan fisiologis: payudara yang penuh terasa panas, berat dan keras. Tidak terlihat mengkilap. ASI biasanya mengalir dengan lancer dengan kadang-kadang menetes keluar secara spontan.
2.      Pada bendungan ASI: payudara yang tebendung membesar, membengkak dan sangat nyeri. Payudara terlihat mengkilap dan putting susu teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit menghisap ASI sampai bengkak berkurang.
Gejala Bendungan ASI
§  Payudara terlihat bengkak
§  Payudara terasa keras
§  Payudara terasa panas
§  Terdapat nyeri tekan
Penyebab terjadinya bendungan ASI
1.      Faktor frekuensi menyusui
Bahwa insiden bendungan payudara dapat dikurangi hingga setengahnya bila bayi disusui tanpa batas. Sejumlah penelitian lainnya mengamati bahwa bila waktu untuk menyusui dijadwal lebih sering terjadi bendungan yang sering diikuti dengan mastitis dan kegagalan laktasi(WHO, 2003). Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan ASI selanjutnya.
2.      Faktor isapan bayi yang tidak aktif
Pentingnya isapan bayi yang baik pada payudara untuk mengeluarkan ASI yang efektif. Isapan yang buruk sebagai penyebab pengeluaran ASI yang tidak efisien saat ini dianggap sebagai faktor predisposisi utama mastitis. Selain itu, nyeri putting susu akan menyebabkan ibu menghindar untuk menyusui pada payudara yang sakit dan karena itulah terbentuknya statis ASI dan bendungan ASI (WHO).
3.      Faktor posisi menyusui yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat menyusu. Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI. Selain itu, banyak ibu merasa lebih mudah untuk menyusui bayinya pada satu sisi payudara dibandingkan dengan payudara yang lain (WHO).
Teknik menyusui yang benar adalah sebagai berikut:
a.  Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. Bayi diletakkan menghadap perut atau payudara ibu
b.  Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah (kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi
c.    Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan) 
 
a.       Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang satu didepan
b.      Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payyudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi)
c.       Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
d.      Ibu menatap bayi dengan kasih saying
e.       Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang dibawah, jangan menekan putting susu atau areolanya saja.
1.      Produksi ASI yang meningkat
Apabila ASI berlebihan, sampai keluar memancar maka sebelum menyusui sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu untuk menghindari bayi tersedak dan menghilangkan bendungan atau memacu produksi ASI saat ibu sakit dan tidak dapat langsung menyusui bayinya.
2.      Pengosongan mamae yang tidak sempurna
Bila tidak dikeluarkan saat ASI terbentuk, maka volume ASI dalam payudara akan melebihi kapasitas alveoli untuk penyimpanannya sehingga bila situasi ini tidak di atasi, maka akan menyebabkan bendungan dan mastitis dalam waktu singkat, dan mempengaruhi kelanjutan produksi ASI dalam jangka panjang (WHO).
3.      Pakaian yang ketat
BH yang ketat juga bisa menyebabkan segmental engorgement. Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan kutang (BH) yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.
4.      Putting susu terbenam
Putting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI.
5.      Putting susu terlalu panjang
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI.
Dampak Bendungan ASI
Statis pada pembuluh limfe akan mengakibatkan tekanan intraduktal yang akan mempengaruhi berbagai segmen pada payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat, akibatnya payudara sering terasa penuh, tegang, dan nyeri (WHO), walaupun tidak disertai dengan demam. Terlihat kalang payudara lebih lebar sehingga sukar dihisap oleh bayi. Bendungan ASI yang tidak disusukan secara adekuat akhinya terjadi mastitis.
Penanganan
1.      Jika ibu menyusui
a. Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang mengeras
b.  Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa mengeringkannya dengan efektif
c.   Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut
d.    Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali), lakukan pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara perlahan-lahan turun ke arah puting susu
e.     Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui
f.       Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
2.      Jika ibu tidak menyusui
a.       Gunakan BH yang menopang
b.      Kompres dingin pada payudara utuk mengurangi bengkak dan nyeri
c.       Berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
d.      Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara
e.       Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasilnya
Terapi dan pengobatan (Prawirohardjo, 2005):
  • Anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya 
  • Anjurkan ibu untuk melakukan post natal breast care

  • Lakukan pengompresan dengan air hangat sebelum menyusui dan kompres air dingin sesudah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri
  • Gunakan BH yang menopang payudara
  • Berikan paracetamol 500 mg untuk mengurangi rasa nyeri dan menurunkan panas
Penanganan sebaiknya dimulai selama hamil dengan perawatan payudara untuk mencegah terjadinya kelainan. Bila terjadi juga, maka berikan terapi simptomatis untuk sakitnya (analgetika), kosongkan payudara, sebelum menyusui pengurutan dulu atau dipompa, sehingga sumbatan hilang. Kalau perlu berikan stilbestrol 1 mg atau lynoral tablet 3 kali sehari selama 2-3 hari untuk sementara waktu mengurangi pembendungan dan memungkinkan air susu dikeluarkan dengan pijatan.



INFEKSI PAYUDARA

Infeksi payudara adalah infeksi yang terjadi pada jaringan payudara. Infeksi payudara merupakan keluhan yang jarang dijumpai diklinik dan lebih banyak terjadi pada wanita menyusui. Penyebab infeki payudara pada umumnya disebabkan karena bakteri Staphylococcus aureus yang secara normal ditemukan dipermukaan kulit. Bakteri ini masuk kedalam tubuh karena adanya luka lecet, terutama pada putting payudara. Infeksi payudara paling sering ditemukan pada ibu yang menyusui namun tidak menyusui pun dapat terkena infeksi payudara. Infeksi payudara pada wanita yang tidak menyusui berasal dari bakteri TBC bakteri sifilis dan bakteri lainnya yang tidak diketahui.
 Infeksi payudara terjadi pada jaringan lemak payudara sehingga menyebabkan pembengkakan. Selain itu pembengkakan akan menekan saluran susu sehingga menyebabkan nyeri dan penyumbatan pada infeksi payudara Penyebab lain dari infeksi payudara yakni payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat, BH yang terlalu ketat, asupan gizi kurang dan istirahat tidak cukup (kurang).
 

 
Gejala Infeksi Payudara
1.      Pembesaran payudara hanya pada satu sisi
2.      Nyeri dan bengkak pada payudara yang terkena infeksi
3.      Demam, mual dan muntah. Semua gejala infeksi payudara hampir disertai dengan demam,
4.    Keluar cairan dari putting payudara yang dapat berupa bening hingga pus (nanah)
5.    Bengkak, nyeri terasa panas dan kemerahan pada payudara yang terkena infeksi
6.   Pembesaran jaringan limfe ketiak jika infeksi telah menyebar keluar dari payudara
Diagnosis Infeksi Payudara
            Umumnya diagnosa infeksi payudara sangatlah mudah yaitu dengan adanya gejala-gejala di atas disertai dengan pemeriksaan fisik pada payudara yang mengalami infeksi, seorang dokter sudah bisa mendiagnosa infeksi payudara. Adapun pemeriksaa pelengkap untuk mendiagnosa infeksi payudara adalah dengan kultur bakteri untuk mengetahui jenis bakterinya dan biopsi untuk mengambilcontoh jaringan payudara yang mengalami infeksi dan sudah mengalami abses. Pemeriksaan lainnya adalah dengan mammografi.
Penanganan Infeksi Payudara
            Pengobatan infeksi payudara biasanya menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik ini harus berdasarkan petunjuk dan resep dokter, dengan antibiotik biasanya sangat efktif dalam mengobati infeksi payudara. Dianjurkan untuk tetap menyusui selama pngobatan dengan antibiotik atau memompa ASI untuk mengurangi kadar antibiotik dalam ASI yang ditelan oleh bayi. Selain dengan menggunakan antibiotik, pengobatan juga dilakukan dengan pengompresan hangat pada payudara selama 15-20 menit, 4 kali/hari. Jika terjadi abses, biasanya dilakukan penyayatan dan pembuangan nanah, serta dianjurkan untuk berhenti menyusui. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya acetaminophen atau ibuprofen). Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui dan bayinya. Sedangkan yang terakhir anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup.
Komplikasi Infeksi Payudara
            Jika infeksi payudara sangat berat maka kemungkinan dapat terjadi abses. Jika telah terjadi abses maka pengobatannya adalah dengan melakukan drainase yaitu pembersihan dan pengaliran cairan dan nanah pada payudara yang mengalami abses.
Pencegahan Infeksi Payudara
Untuk mencegah terjadinya mastitis bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:
ü  Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
ü  Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan payudara dengan cara memompanya
ü  Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah robekan/luka putting susu
ü  Minum banyak cairan
ü  Menjaga kebersihan putting susu
ü  Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui. 


MASTITIS
Mastitis berasal dari bahasa Yunani yaitu Matos yang berarti infeksi dan Itis berarti radang. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri.Hal tersebut diatas menyebabkan penurunan produksi susu. Perubahan fisis (susu) biasanya meliputi perubahan warna, bau, rasa, dan konsistensi.
Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara). Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-28 setelah kelahiran. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional puerperalis. Kuman yang paling banyak menyebabkan mastitis adalah Staphylococcus aureus. Dua penyebab utama dari mastitis adalah stasis (terhenti) ASI dan infeksi. Penyebab mastitis ini dibagi menjadi 2 yaitu mastitis infeksius dan non-infeksius. Mastitis infeksius adalah mastitis yang terjadi karena adanya kuman masuk lewat mulut bayi atau hidung saat bayi menyusu. Mastitis non-infeksius adalah mastitis karena terhentinya (statis) ASI atau karena teknik menyusui yang salah.
Pada mastitis infeksius, ASI dapat terasa asin akibat kadar natrium dan klorida yang tinggi dan merangsang penurunan aliran ASI. Ibu harus tetap menyusui. Antibiotik (resisten-penisilin) diberikan bila ibu mengalami mastitis infeksius. 

 
Patofisiologi Mastitis
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin waktu hamil dan sangat di pengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkan dibutuhkan refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleks ini timbul bila bayi menyusui.
Apabila bayi tidak menyusu dengan baik atau jika payudara tidak dikosongkan dengan sempurna, maka ASI akan tertimbun pada ductus lactiferous. Penimbunan ASI pada ductus lactiferous di payudara menyebabkan bengkak dan keras, sehingga terdapat sensasi nyeri pada ibu. Kuman (Staphylococcus aureus) ini menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Dari tingkat radang ini akan cepat menjadi abses, karena oleh radang duktulus-duktulus menjadi edematous, air susu terbendung, dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah. Gejala dari abses ini, biasanya ibu akan merasakan nyeri yang sangat, kulit di atas abses mengkilap dan terjadi peningkatan suhu (390 – 400C).
Etiologi Mastitis
§      Organisme penyebab utama adalah Streptococcus aureus
§      Payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat, akhirnya terjadi mastitis
§      Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement, jika tidak disusukan bisa terjadi mastitis
§      Putting susu yang lecet atau terluka akan memudahkan masuknya kuman menjalar ke duktus-duktus dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya mastitis
§      Ibu dengan asupan gizi yang kurang, isirahat yang kurang dan anemia, akan mempermudah terjadinya infeksi.
§      Personal hygiene yang kurang pada putting payudara
Tingkatan Mastitis
1.      Tingkat awal peradangan
Pada peradangan dalam taraf permulaan penderita hanya merasa nyeri setempat,hal ini dapat dikurangi dengan menyokong payudara menggunakan kain segi tiga, supaya tidak menggantung yang memberikan rasa nyeri dan disamping iu memberi antibiotika untuk mengurangi terjadinya infeksi. Peneliti mengemukakan bahwa Stafilococcus aureus yang dibiakkan 93 % resisten terhadap penisilin dan 55 % terhadap streptomisin, akan tetapi hampir tidak resisten terhadap linksin dan oksasilin. Dianjurkan pemakaian linkosin secukupnya selama 7 sampai 10 hari dan kalau ternyata alergi terhadap obat-obatan ini,diberi tetrasiklin.
2.      Tingkat abses
Hampir selalu orang datang sudah dalam tingkat abses. Dari tingkat radang ke abses berlansung sangat cepat karena oleh radang duktulus-duktulus menjadi edematous, air susu terbendung dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah.
Penatalaksanaan
©      Menyusui tetap diteruskan, bayi disusukan pada payudara yang terkena selama dan sesering mungkin agar payudara kosong, kemudian pada payudara yang normal.
©      Menyokong payudara dan kompres lokal, berilah kompres panas bila menggunakan sower/ lap basah pada payudara yang terkena.
©      Ubah posisi menyusui dari waktu kewaktu yaitu dengan posisi tiduran, duduk/ posisi memegang bola (foot ball position)
©      Pakailah baju dan bra yang longgar
©      Istirahat yang cukup dan makan-makanan yang bergizi
©      Perbanyak minum ± 2 liter/hari
©      Dengan cara-cara diatas biasanya peradangan akan menghilang setelah 48 jam, jarang sekali terjadi abses, tetapi apabila dengan cara-cara tersebut tidak ada perbaikan setelah 12 jam maka diberikan antibiotika selama 5-10 hari dan analgesic.
©      Berikan kloksasin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari, bila diberikan sebelum terbentuknya abses biasanya keluhan akan berkurang
©      Ibu harus didorong menyusui bayinya walaupun ada pus
©      Follow up selama 3 hari setelah pemberian pengobatan
©      Pada payudara yang terdapat masa padat, mengeras di bawah kulit yang kemerahan diperlukan konsultasi pada ahli, karena membutuhkan anestesi dan insisi radial, insisi dilakukan dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak memotong saluran ASI, kantung pus dipecahkan dengan tissue forceps atau jari tangan, pasang tampon dan drain, tampon dan drain diangkat setelah 24 jam
Pencegahan Mastitis
Mastitis dapat dihindari dengan istirahat yang cukup pada ibu post partum dan secara teratur menyusui bayinya agar payudara tidak menjadi bengkak. Menggunakan bra yang sesuai dengan ukuran payudara. Serta usahakan untuk selalu menjaga kebersihan payudara dengan cara membersihkan dengan kapas dan air hangat sebelum dan sesudah menyusui. Hampir semua kasus mastitis akut dapat dihindari melalui upaya menyusui dengan benar. Kebersihan harus dipraktekkan oleh semua yang berkontak dengan bayi baru lahir dan ibu baru, juga mengurangi insiden mastitis. Tindakan pencegahan termasuk usaha yang cermat untuk menghindari kontaminasi tersebut dengan menyingkirkan individual yang diketahui atau dicuigai sebagai karir dari tempat perawatan. Mencuci tangan dengan baik adalah penting untuk mencegh terjadinya infeksi.
Cara mengatasi radang payudara
  1. Istirahat. Istirahat akan menghilangkan rasa stress dan meningkatkan kekebalan tubuh kembali
  2. Kompres payudara secara bergantan dengan kompres hangat dan dingin. Kompres dingin dapat menghilangkan rasa nyeri pada payudara dan kompres hangat dapat mengurangi peradangan.
  3. Pijat daerah yang sakit. Pemijatan dapat meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan payudara serta membantu faktor imunitas dipayudara. Pijat payudara sambil mandi air hangat atau berendam dalam air hangat 
  4. Jangan berhenti menyusui meskipun payudara meradang, sebab menghentikan menysui dapat menyebabkan infeksi kuman pada payudara yang dapat berlanjut menjadi abses
  5. Susuilah lebih sering pada payudara yang meradang Susuilah payudara yang meradang sampai kosong karena apabila ada yang tersisa akan lebih rentan terhadap infeki, sebaiknya harus segera menyusui bayi. Bila bayi menolak menyusu maka keluarkan dengan tangan atau dipompa. Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat setelah itu baru ganti pada payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusui 
  6. Apabila bayi anda menolak menyusu pada payudara yang meradang hal ini dapat disebabkan karena peradangan kelenjar susu meningkatkan kadar sodium (garam) pada ASI sehingga rasanya jadi asin kebanyakan bayi tidak menyadari rasa asin ini tetapi ada bayi yang menolak untuk meminumnya. Apabila bayi menolak mulailah menyusui dari payudara yang sehat baru selanjutnya ke payudara yang meradang apabila peradangan terus berlanjut maka segeralah periksa ke dokter.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar